Benarkah Doujin Istilah untuk Manga Dewasa? Simak di Sini!

Istilah doujin sering kali dipandang negatif karena erat hubungannya dengan konten erotis. Sebenarnya konten seperti apa doujin itu? Temukan jawabannya di sini!

Di Indonesia budaya Jepang diterima dengan baik khususnya untuk manga dan anime. Bagi manga dan anime lovers istilah doujin menjadi istilah yang sering kali terdengar. Istilah ini merupakan bagian dari budaya Jepang yang sering kali disangkut-pautkan dengan konten dewasa.  

Hal ini sangatlah wajar karena ketika di-searching yang muncul adalah gambar-gambar erotis. Sehingga, istilah tersebut dicap sebagai hal negatif yang tidak seharusnya diakses.  

Mengenal Istilah Doujin

Ketika mengetahui bahwa doujin merupakan konten erotis, kebanyakan orang tidak akan mencari tahu lebih lanjut. Namun hal ini harus diluruskan karena ternyata istilah itu bukan secara khusus mewakili konten dewasa.

Kata yang berasal dari kependekan doujinshi ini memiliki makna karya yang dipublikasikan sendiri. Jadi sebenarnya tidak mengarah ke konten dewasa atau gambar erotis lainnya.

Kalau di Indonesia bisa disebut dengan karya indie atau mandiri yang diterbitkan seseorang. Nah, kalau di Jepang karya seperti ini biasanya diterbitkan oleh mangaka amatir atau penggemar dari manga atau anime tertentu.

Mangaka tersebut menciptakan sendiri alur yang mereka inginkan menggunakan karakter dari manga atau anime kesayangannya. Inilah yang sebenarnya disebut dengan doujinshi.

Alasan kenapa doujinshi kebanyakan berisi konten dewasa itu karena di Jepang sendiri konten seperti itu merupakan konten yang wajar. Selain itu, pasar untuk konten dewasa di Jepang cukup besar sehingga mangaka yang berkarya makin banyak.

Alasan Doujin Terus Diminati

Pada dasarnya konten doujin adalah konten parodi dari manga atau anime yang menjadi rujukan. Namun tidak jarang ada yang memperjualbelikan konten doujinshi kepada para fans.

Pastinya banyak yang bertanya-tanya mengapa hal itu diperbolehkan. Karena bila membicarakan mengenai karya parodi tentunya bertujuan untuk hiburan dan akan melanggar hak cipta bila diperjualbelikan.

Nah, berikut inilah beberapa alasan mengapa konten doujinshi memiliki banyak peminat dan punya pasarnya sendiri.

Dimaklumi oleh Mangaka Profesional

Alasan utama mengapa doujinshi bisa diperjualbelikan dan pertumbuhannya sangat pesat ada pada para mangaka-nya sendiri. Kreator profesional dulunya juga berawal dari seorang amatir yang membuat karya berdasarkan karya mangaka profesional di zamannya.

Ada rasa saling menghargai sehingga sangat jarang mangaka profesional yang karyanya di-doujinshi-kan oleh mangaka baru melapor ke pihak berwajib. Bahkan di Jepang ada pameran doujinshi terbesar dengan jumlah pengunjung mencapai 300.000 orang per hari.

Alur Alternatif Manga

Namanya saja parodi, sehingga alurnya pun suka-suka mangaka-nya. Tidak jarang penggemar menjadikan doujinshi untuk menikmati karya dengan alur berbeda.

Misalnya ada karakter yang menurut penggemar tidak seharusnya mati, maka di doujinshi karakter tersebut akan ‘dihidupkan’ dan diberi happy ending.

Tempat Baca Doujin

Penggemar tidak bisa membaca doujinshi ini di platform-platform baca manga resmi. Ada tempat tersendiri bagi karya doujinshi untuk bertemu para penikmatnya.

Di bawah ini adalah beberapa tempat untuk membaca karya doujinshi.

1. Pixiv, platform seperti DeviantArt dengan sistem membership.

2. Alice Book, platform yang menjual doujinshi dalam bentuk fisik.

3. Melonbooks, platform yang menjual produk doujinshi langsung dari Comiket Jepang.

4. Toranoana, platform yang bekerjasama langsung dengan mangaka doujinshi.

Kesimpulan

Sekarang tentunya sudah jelas bahwa doujin bukan konten negatif yang melulu berisikan gambar erotis. Bila ada manga kesayangan yang alurnya tidak sesuai ekspektasi bisa coba mencari doujinshi-nya. Siapa tahu ada mangaka yang sepemikiran dan membuatkan alur alternatif yang lebih memuaskan dari alur originalnya.